08 June 2016

Indonesia Punya Peluang Jadi Pemain Kunci

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Anies Baswedan, P.hd. menyatakan bahwa Indonesia berpeluang besar menjadi negara pemain kunci yang memainkan peran global seiring tren kebangkitan negara-negara Asia dalam dua dekade terakhir.
Hal itu beliau sampaikan dalam sambutan penutupan Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) yang digelar di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyayakrta (UMY), Selasa petang (24/5).
Anies memaparkan bahwa sebelum terjadinya revolusi industri yang mendorong tumbuhnya perekonomian negara-negara Eropa, negara-negara di Asia menguasai 60 persen GDP (Gross Domestic Product) seluruh dunia. Pada akhir tahun 1990-an, ekonomi negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan India kembali bangkit. Namun di sisi lain, negara-negara tersebut tidak mampu bekerjasama dalam pembangunan melihat persoalan kultural politik yang tidak terbangun.
Berbeda dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Filiphina di mana kondisi kultural politik di kawasan ini terbangun dengan baik diperlihatkan dari terbangunnya kerjasama multirateral dalam forum ASEAN, hal itulah yang membuat Anies menyatakan bahwa masa depan Asia ada di negara kawasan Asia Tenggara. “Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tenggara di mana Indonesia akan menjadi mesin terkuat di kawasan ini,” tutur Anies.
Anies Baswedan menilai Indonesia memiliki modal sosial yang besar untuk mewujudkan kondisi tersebut. Menurut Anies, modal utama tersebut berupa keunggulan mengelola kebhinekaan yang tidak dimiliki oleh negara lain di Asia seperti India, Afganistan, Pakistan, dan Papua Nugini. Hal itulah yang harus terus dirawat oleh masyarakat Indonesia
“Ketika saya berada di forum internasional saya mengatakan bahwa dunia harus belajar ke Indonesia tentang demokrasi khususnya dalam mengelola perbedaan, bukan sebaliknya,” tutur Anies.
Di samping itu, modal sosial tersebut juga harus didukung dengan pengembangan kualitas manusia-manusia Indonesia, terlebih pada dua aspek yakni kesehatan dan pendidikan, dua aspek yang menjadi hajat utama persyarikatan Muhammadiyah. Tugas generasi masa kini ialah memastikan pendidikan sesuai dengan masa depan. Selain itu, infrastruktur yang dibangun juga harus beres.
Dalam sambutannya, Anies juga menyampaikan harapannya kepada persyarikatan Muhammadiyah ke depan sesuai dengan visi Indonesia berkemajuan. “Tema konvensi ini sangat penting mengingat Indonesia tengah dalam persimpangan jalan, Muhammadiyah harus berani menjadi pelopor tidak hanya dalam percaturan domestik maupun nasional, namun sudah saatnya Muhammadiyah mengambil peran dalam percaturan global di level Asia melewati teritorial batas negara,” tutup Anies.
Sementara itu, Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum membacakan pokok-pokok pikiran hasil KNIB Pokok-pokok pikiran tersebut berdasarkan gagasan-gagasan yang disampaikan narasumber KNIB yang telah terselenggara dari tanggal 23 hingga 24 Mei 2016. KNIB sendiri ditutup secara resmi oleh Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.

KNIB Hasilkan Enam Pokok Pikiran untuk Wujudkan Indonesia Berkemajuan

Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) telah berlangsung sejak Senin, 23 Mei 2016 dan ditutup secara resmi pada Selasa, 24 Mei 2016 bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Selama dua hari tersebut, para narasumber yang hadir telah menyampaikan gagasan-gagasannya dalam mewujudkan visi Indonesia berkemajuan. Gagasan-gagasan tersebut menghasilkan pokok-pokok pikiran hasil KNIB.

Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum saat membacakan pokok-pokok pikiran hasil KNIB pada acara penutupan KNIB di Sportorium UMY menyebutkan ada enam pokok pikiran yang direkomendasikan oleh Muhammadiyah. Seperti diungkapkan oleh Dahlan Rais, KNIB merupakan forum lintas kelompok, profesi, agama dan budaya yang dimaksudkan sebagai forum untuk menghimpun gagasan, pengalaman dan idealisme untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.

"Adapun pokok-pokok pikiran hasil KNIB adalah sebagai berikut, Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun di atas nilai-nilai dan cita-cita luhur 1945. Karena itu, segenap komponen bangsa memiliki kewajiban kolektif membangun keungulan bangsa, yang ditopang oleh kepemimpinan perubahan, budaya publik yang rasional-konstruktif, politik yang demokratis-berkeadaban yang efektif dan produktif, serta ekonomi yang berdaya saing tinggi, menuju Indonesia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Kedua, bangsa Indonesia harus bekerja lebih keras, cerdas, kreatif, inovatif dan percaya diri untuk menyelesaikan masalah kesenjangan sosial, politik, korupsi, kekerasan, moralitas, kriminalitas dan daya saing yang rendah," sebut Dahlan Rais.

Rekomendasi ketiga, dalam bidang politik perlu didorong konsolidasi demokrasi yang berbasis nilai, etik, dan amanah untuk memperkuat good governance,  clean goverment dan meritokrasi  sehingga melahirkan kepemimpinan nasional dan daerah yang kuat, melayani, mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, partai politik, dan primordialisme agama dan budaya.

"Keempat, dalam bidang hukum dan pemerintahan diperlukan penguatan Indonesia sebagai negara hukum dimana seluruh sistem penyelenggaraan negara, penyelenggara negara dan masyarakat mematuhi hukum yang berlaku. KNIB memandang penting dilakukannya amandemen kelima UUD 1945 terutama yang berkait dengan Haluan Negara, kedudukan, susunan dan fungsi Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Daerah. Penguatan Pancasila sebagai Dasar Negara dan sumber nilai dan etik yang memandu dan mempersatukan bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945," jelas Dahlan Rais lagi.

Sementara pokok pikiran yang kelima adalah bangsa Indonesia memerlukan revolusi mental dan revolusi budaya sebagai prasyarat membangun bangsa yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, berkeadaban luhur yang dibangun melalui pendidikan yang bermutu dan berkeunggulan. Dan keenam, bangsa Indonesia memerlukan tatanan kehidupan sosial dan politik yang lebih kuat berlandaskan spirit persatuan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika dan visi bersama untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan bermartabat.

Pokok pikiran hasil KNIB tersebut akan diserahkan kepada pemerintah sebagai rekomendasi sebagai upaya mencari solusi akan permasalahan-permasalahan bangsa yang ada.

Ridwan Kamil: Masyarakat Butuh Pemimpin Melangit yang Kakinya masih Memijak Bumi

Selama ini manusia dihadapkan dengan para pemimpin yang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Pemimpin tersebut juga memiliki gaya memimpin sendiri yang terkadang menimbulkan respon positif ataupun negatif dari para rakyatnya. Namun pada era saat ini, pemimpin yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat adalah pemimpin yang memiliki pandangan dan misi melangit, namun masih bersikap atau memijakkan kaki di bumi.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dalam Sesi Pleno II Konferensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di Ruang Sidang AR. Fachruddin B lantai 5 pada Selasa (24/05). Dalam pemaparannya, Ridwan Kamil menyampaikan pengalaman kerjanya sebagai walikota selama 2,5 tahun.

Kang Emil, begitu ia sering disapa, menyampaikan bahwa manusia sudah melewati beberapa masa kepemimpinan. Pertama adalah masa ideologi, dimana seorang pemimpin diikuti karena sabdanya atau ideologinya, seperti Nabi Muhammad dan khalifah. Kang Emil menyebutkan bahwa masa itu telah berlalu.

Masa kedua adalah masa dimana para pemimpin diikuti karena mereka menaklukkan negeri-negeri. Seperti contohnya Gajah Mada dan Julius Caesar, yang masa tersebut juga sudah lewat. Masa ketiga adalah masa pemimpin yang membebaskan revolusioner seperti Soekarno, Mahatma Ghandi, dan Lee Kwan Yiuw yang juga sudah lewat masanya.

“Sekarang adalah masanya kepemimpinan seperti Pak Jokowi dan sebagian sahabatnya. Mereka memimpin dengan cita-cita melangit, namun masih bersikap membumi. Rakyat sudah tidak lagi mencari pemimpin seperti nabi, seperti raja, ataupun sosok orator yang luar biasa. Mereka mencari seperti kita, bedanya mereka (pemimpin-red.) yang lebih amanah. Saya bilang ke warga Bandung, saya tidak ada bedanya dengan anda semua. Bedanya saya cuma lebih sibuk saja, karena walikota dan bupati semuanya diurus,” jelas Ridwan Kamil.

Sebagai seorang pemimpin, Kang Emil juga tengah mempraktekkan politik jemput bola, karena untuk maju itu dijemput, bukan ditunggu. Pemimpin yang dicari adalah yang membawa perubahan dengan tipikal proaktif bukan yang hanya duduk di meja dan menunggu laporan saja. “Turun ke lapangan, ngobrol dengan warga, berinteraksi. Karena perubahan harus dijemput,” jelas Kang Emil.

Ridwan Kamil juga menyebutkan bahwa ia selalu mengutip perkataan Steve Jobs yang menyebutkan bahwa yang membedakan pemimpin dan pengikut adalah Inovasi. “Pak Jokowi selalu mengatakan jangan sibuk urusan rutin. Berinovasi! Kalau sibuk urusan rutin, nanti tahu-tahu sudah lima tahun, nanti tidak ada jejaknya,” terang Ridwan Kamil.

Sebagai seorang pemimpin, Ridwan Kamil menyebutkan juga harus berkolaborasi bersama warga. “Membangun bersama warga, berkolaborasi dengan polisi, institusi, dan dengan warga bandung. Saya ciptakan komunitas-komunitas, saya rangkul warga sesuai forum-forum keahlian,” sebut Ridwan Kamil.

Pada kesimpulannya, sebagai seorang pemimpin selain harus jujur dan amanah, juga harus bekerja sesuai hati, tanpa mengharapkan pujian. “Hidup itu bukan untuk pujian, hidup bukan untuk penghargaan. Tapi kalau kita bekerja dari hati, itu (pujian dan penghargaan-red.) akan mengikuti kita sendiri,” terang penerima Government Awards 2016 tersebut.

Mendikbud : Media Berperan Penting Perbaiki Moral Pelajar


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Rasyid Baswedan, Ph.D mengungkapkan bahwa meskipun kondisi moral pelajar masih memprihatinkan, setidaknya masih ada hal yang bisa dibanggakan, yakni dengan adanya para pelajar berprestasi yang bisa dijadikan contoh bagi pelajar bermoral kurang baik. Dalam hal ini, media pun ikut memiliki peran penting dalam memperbaiki moral pelajar Indonesia, dengan lebih banyak menyoroti pelajar-pelajar Indonesia yang berprestasi.


            Dalam ungkapannya saat ditanya soal moral para pelajar di Indonesia yang semakin memprihatinkan, Anies mengatakan bahwa Indonesia masih banyak memiliki para pelajar yang berprestasi dan dapat dijadikan contoh. “Indonesia memiliki banyak potret-potret positif yang ditujukan bagi para pelajar Indonesia. Tidak perlu menanggapi pelajar-pelajar negatif, toh kita masih punya pelajar-pelajar yang juga membanggakan. Media saat ini memang selalu memunculkan kondisi moral pelajar yang buruk, tanpa memperlihatkan pelajar yang positif,” ujar Anies.

            Dalam pemaparannya, saat ditemui usai memberikan sambutan penutupan Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan, pada Selasa (24/05) malam di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Anies memaparkan bahwa contoh yang baik dari para pelajar Indonesia yang berprestasi dan memiliki moral yang baik ini justru harus diekspose oleh media, agar para pelajar dapat meniru moral anak bangsa yang bisa dibanggakan.

            “Media harus mengekspose contoh-contoh yang baik, bukan hanya yang buruk saja. Karena jika menular yang buruk, nanti pelajar juga akan tertular yang buruk-buruk. Pelajar yang baik itu adalah potret pelajar Indonesia. Kadang-kadang media lupa dengan yang baik-baik, jadi jangan terburu-buru menjudge,” sarannya.

            Terkait kondisi moral pelajar di Indonesia, Anies memberikan tanggapan saat ditanyai terkait mendisiplinkan pelajar namun justru guru dihukum atas nama HAM. Banyaknya kasus-kasus pengaduan pelajar akibat tidak terima dihukum oleh gurunya, menjadikan pelaku (guru) dikenai sanksi hukuman penjara. “Saya kira tidak perlu mempidanakan kasus seperti itu. Kalaupun dinilai ada tindakan-tindakan yang kelewat batas, itu bisa lewat kode etik dulu. Tidak perlu ada tindakan pidana,”tandasnya.

            Melihat kondisi itu, Anies mencontohkan salah satu pengalaman guru yang mengajar di daerah pedalaman, dalam mendisiplinkan siswanya. Menurutnya saat guru baru tersebut berada dalam sebuah acara serah terima kelas dengan guru sebelumnya, guru baru tersebut justru diberi tongkat rotan sebagai tanda terimanya. Dan dikatakan kepadanya bahwa di ujung rotan itu ada mutiara, hingga akhirnya sang guru itu pun berjanji untuk tidak menggunakan rotan tersebut. Dalam mendisiplinkan anak, tentu harus ada tekniknya dan itu harus dipelajari.  "Guru di daerah, sering mendisplinkan siswanya menggunakan rotan oleh guru sebelumnya. Ternyata hal itu bisa diubah dengan mempelajari teknik baru, yaitu dengan diajak berbicara baik-baik dan hasilnya murid  juga menyukainya. Jadi memang ilmu mengajar bisa dikembangkan yang nantinya bisa menemukan cara-cara baru untuk mendisiplinkan anak-anak. Guru jadi pembelajar dalam menemukan teknik-teknik baru dalam mengajar,” tutup Anies.

PENDIDIKAN ANAK HARUS DIMULAI SEJAK DALAM KANDUNGAN

Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (HMJ KPI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang bekerjasama dengan Khanza Film Production, menghadirkan aktris sekaligus pendakwah, Pipik Dian Irawati yang dikenal dengan sebutan Umi Pipik, serta seorang tuna netra penghafal al qur'an yang masih berusia 10 tahun bernama Panca Rahmati, dan Agus Riyanto selaku produser eksekutif film Surga Menanti, yang merupakan seorang alumnus Teknik UMY. Dalam penyampaian tausiyah dan bincang film tersebut, Umi Pipik menyampaikan bahwa pendidikan anak harus dimulai sejak dini, yaitu sejak anak masih berada dalam kandungan.
"Supaya anak memiliki moral yang baik, maka ibu harus mempersiapkan pendidikan anak sejak anak belum dilahirkan, yaitu ketika masih berada dalam kandungan. Ini karena anak telah dapat mendengar dan merasakan apa yang dilakukan oleh ibunya. Sehingga ketika telah lahir, anak akan terbiasa dengan apa yang dilakukan ibunya ketika mengandung. Orang tualah pembentuk moral anak," ungkapnya saat mengisi acara tersebut, pada Rabu (25/5) di Plaza boga UMY.
Dalam penyampaiannya, Umi Pipik menggambarkan bahwa banyak orang tua yang menginginkan anaknya memiliki moral yang baik dan prestasi yang membanggakan, namun sayangnya hanya sedikit saja orangtua mengajarkan moral yang baik untuk diikuti oleh anak-anak mereka. Terlebih saat ini moral anak telah dipengaruhi oleh film-film yang justru tidak ada nilai moralnya. "Film saat ini sangat miris, banyak adegan adegan yg tidak sesuai dilihat oleh anak dan tidak ada pesan moral. Mirisnya, film film itu justru banyak ditonton oleh jutaan orang," kecamnya.
Oleh karena itu, dengan diadakannya film yang berjudul Surga Menanti tersebut Umi pipik menyampaikan bahwa dalam film tersebut banyak menyimpan pesan moral yang pantas disajikan untuk kondisi moral anak bangsa yang semakin memprihatinkan. "Kami ingin menghadirkan film yang memiliki banyak pesan moral di dalamnya. Bahkan memberikan pesan kepada orangtua untuk bisa mendidik anak-anaknya dengan baik," jelasnya.
Umi Pipik menambahkan bahwa dalam film ini menggambarkan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang hafidz qur'an. Orangtua menekankan kepada anaknya bahwa jika berhasil menjadi penghafal al-qur'an, akan diberikan mahkota kehormatan di Akhirat kelak. Motivasi yang diberikan oleh orangtua tersebut, menjadikan anak yang diperankan oleh Panca, ingin meluluskan keinginan orang tuanya. "Suatu saat nanti, jika anak berhasil menghafal, akan memberikan mahkota kepada orangtuanya. Inilah yang menjadi pacuan semangat anak untuk menjadi seorang hafidz qur'an. Meskipun dalam film ini juga menceritakan sosok hafidz cilik yang memiliki keterbatasan penglihatan, namun tetap memiliki keinginan menjadi penghafal al qur'an," tambahnya.
Dengan diadakan bedah film tersebut, Umi Pipik berharap dapat langsung mensiarkan al qur'an dan memberikan arahan langsung kepada remaja untuk menonton film yang memiliki nilai moral yang baik. "Kami masuk ke sekolah-sekolah dengan tidak langsung mensiarkan al qur'an, dan memberikan arahan tontonan yang memiliki pesan moral yg baik untuk ditonton. Selain itu juga memotivasi dan memberi pacuan kepada siapapun agar tidak malu membawa al qur'an, membaca, bahkan menjadi seorang hafidz. Seharusnya yang malu itu adalah kita memiliki kelengkapan jasmani, namun tidak mampu menjadi penghafal al qur'an," ungkapnya dengan mencontohkan sosok tuna netra hafidz cilik, Panca.
Diakhir acara Umi Pipik memberikan pesan kepada peserta yang hadir untuk selalu mengingat akan dua hal. Kedua hal tersebut adalah mengenai kebaikan dan keburukan yang dimiliki orang lain maupun diri sendiri. "Ingatlah dua hal agar kita selalu menabur kebaikan dalam ketaatan. Pertama adalah ingatlah kebaikan orang lain, bukan keburukan. Ini agar tidak muncul kebencian yang dapat mengotori hati. Kedua yaitu lupakan kebaikan yang kita miliki, dan selalu mengingat keburukan yang ada dalam diri kita. Ini agar tidak muncul sifat riya yang dapat mengikis iman," pesannya.
"Setiap kita berjalan dan perjalanan kita adalah musafir. Sedangkan setiap pemberhentian kita dalam sebuah perjalanan,di situlah kesempatan untuk menabur kebaikan sebagai bekal ketika di akhirat. Jadikan tempat pemberhentian sebagai bekal untuk diri kita," tutup Pipik

Calon Independen Dinilai Akan Miliki Banyak Tantangan

Jumlah total calon kandidat pemimpin daerah dari kalangan independen pada Pemilukada 2015 hanya berjumlah 35 persen dari total keseluruhan calon. Sedangkan dari kalangan independen, yang berhasil memenangkan kursi pemilukada hanya 14,4 persennya saja. Minimnya partisipasi kandidat dari calon independen dinilai karena memiliki banyak tantangan berat. Hal itu pula yang sepertinya akan dihadapi para calon independen pada Pemilukada Jogja 2017 yang akan datang.

Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Tunjung Sulaksono, M.Si. dalam diskusi public “Restorasi Jogja, dari Proses Elektoral Pemilukada 2017” di Ruang Sidang Fakultas Hukum pada Kamis (26/05). Tunjung menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama calon independen adalah masalah administrasi.

Tunjung menambahkan bahwa berbeda dengan calon dari partai politik, calon independen harus mandiri dalam urusan administratif. Selain biaya kampanye yang harus ditanggung secara independen, sang calon juga harus dapat mendapatkan dukungan dari masyarakat tanpa dorongan dari partai manapun.

Meski demikian, hadirnya calon independen dinilai Tunjung sebagai bentuk ril pengaplikasian dari teori yang hanya didapat dari kelas saja. “Dengan melakukan deklarasi-deklarasi tertentu, sang calon dari kalangan independen tentu dapat membuka mata publik. Namun dari sisi kekurangannya, yang dilakukan oleh sang calon selalu didasari oleh kesukarelaan atau voluntarism, yang berbeda dengan mesin-mesin kuat dari partai politik yang sudah memiliki dukungan masa,” terang Tunjung.

Meski disertai dengan tantangan berat, hadirnya calon dari kalangan independen dinilai Wawan Budiyanto selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta, sebagai strategi baru di tengah-tengah masyarakat. “Fungsi partai politik kadang-kadang memang berseberangan dengan keinginan rakyat. Sehingga munculnya calon dari independen diharapkan dapat membawa strategi yang berbeda,” ujar Wawan.

Wawan juga menjelaskan bahwa besarnya dana kampanye yang dikucurkan calon pemimpin semua harus dilaporkan ke KPU dan KPU membatasi besarnya jumlah dana yang dikeluarkan. “Tapi meski dari KPU sudah menetapkan dana dan fasilitasi sedemikian rupa, terkadang partai politik memiliki instrument politik dan daya jangkau sendiri. Hal tersebut yang juga menambah tantangan bagi calon dari pihak independen,” tambah Wawan.

Berbeda dengan pemaparan kedua pemateri, Garin Nugroho, Calon Walikota jalur independen JOINT optimis mendapatkan dukungan masyarakat untuk calon dari kalangan independen. Garin menilai bahwa pemilu sebagai bagian dari pendidikan, sehingga dengan munculnya calon dari independen dinilai sebagai bentuk pendidikan demokrasi di Indonesia.

Kalangan Independen yang dimaksud oleh Garin pun jenisnya beragam. Calon independen tidak melulu memperjuangkan suaranya sendiri tanpa dukungan dari pihak manapun. Garin menyebut jenis calon independen beragam. “Ada yang mulanya independen kemudian jadi bergabung dengan partai politik, ada yang tetap independen, ada yang independen tapi didukung oleh kelompok agama dan lain sebagainya,” ujarnya.

Garin juga menyatakan bahwa hadirnya calon independen di Yogyakarta berbeda dengan kasus munculnya calon-calon independen di kota-kota besar seperti Jakarta ataupun Surabaya. Munculnya calon independen dinilai Garin sangat tergantung dengan kotanya. “Bila di kota-kota besar seperti Jakarta, calon independen akan sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama dengan banyaknya pialang-pialang di Jakarta. Berbeda dengan Jakarta, kota Yogyakarta tidak banyak pialang-pialang, dan memiliki ekonomi yang masih minus. Jogja ibarat bendungan besar. Banyak cendekiawan dan budayawan, namun tangan-tangannya belum sampai ke kalangan bawah,” tutup Garin. (Deansa)

LAUNCHING MAJALAH POROS DAN DISKUSI PUBLIC


PERS MAHASISWA POROS UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN MENGGELAR

LAUNCHING MAJALAH DAN DISKUSI PUBLIK DENGAN MENGANGKAT TEMA

MENILIK DESA WISATA. LAUNCHING MAJALAH DAN DISKUSI PUBLIK

DILAKSANAKAN DI AUDITORIUM KAMPUS 1 UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA.

UNIT KEGIATAN MAHASISWA ATAU UKM PERSMA POROS MENGGELAR

LAUNCHING MAJALAH DAN DISKUSI PUBLIK MENGENAI DESA WISATA.

DENGAN MENGANGKAT TEMA MENILIK DESA WISATA, PERSMA POROS

MENGHADIRKAN DINAS PARIWISATA DIY, PUSAT STUDI PARIWISATA UGM/ DAN

POKDARWIS DIY SEBAGAI NARASUMBER.
MARAKNYA WILAYAH PEDESAAN YANG MENGEMBANGKAN WILAYAHNYA

MENJADI DESA WISATA MEMBUAT PERSMA POROS MELAUNCHING MAJALAH

YANG DITUJUKAN BAGI SELURUH DESA WISATA YANG ADA DI DAERAH

ISTIMEWA YOGYAKARTA UNTUK DAPAT MENAMBAH PENGETAHUAN DALAM

MENGELOLA DESA WISATA.
SELANJUTNYA, SETELAH LAUNCING MAJALAH INI DIHARAPKAN MASYARAKAT

INDONESIA KHUSUSNYA YOGYAKARTA MAMPU MENGEMBANGKAN DESANYA

UNTUK MENDAPATAN PENGHASILAN YANG LEBIH MAJU.

Milad BK uad


DALAM RANGKA MEMPERINGATI MILAD YANG KE-32, PROGRAM STUDI

BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA

MENYELENGGARAKAN FAMILY GATHERING. FAMILY GATHERING DIHADIRI

SELURUH KARYAWAN, DOSEN DAN MAHASISWA BIMBINGAN DAN

KONSELING
MEMPERINGATI MILAD KE-32 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA MENYELENGGARAKAN FAMILY

GATHERING. FAMILY GATHERING DILAKSANAKAN DI KAMPUS 2 UNIVERSITAS

AHMAD DAHLAN JALAN PRAMUKA YOGYAKARTA

ACARA YANG DIMERIAHKAN DENGAN JALAN SANTAI INI BERTUJUAN UNTUK

MENINGKATKAN TALI SILAHTURAHMI ANTAR MAHASISWA SERTA MENJALIN

KEDEKATAN ANTARA MAHASISWA DENGAN DOSEN

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA MERUPAKAN PROGRAM STUDI YANG MENJUARI KOMPETISI-

KOMPETISI DI TINGKAT NASIONAL, SERTA DITINGKAT INTERNASIONAL YANG

MENJADI DELEGASI PADA PERTEMUAN-PERTEMUAN DI LUAR NEGERI