08 June 2016

Masyarakat Belum Implementasikan Nilai Budaya Bangsa dengan Baik

Implementasi nilai-nilai warisan budaya bangsa yang tercermin dalam dasar negara Pancasila masih menjadi permasalahan. Di tengah gempuran budaya dari luar yang sangat beragam, nilai-nilai Pancasila belum diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh Nasihin Masa, Pemimpin Redaksi Republika dalam sesi paralel Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) dengan tema “Budaya Berkemajuan: Revitalisasi Karakter: Aktualisasi Agama dan Pancasila dalam Identitas Keindonesiaan” yang bertempat di Ruang Sidang Gedung Kasman Singodimedjo Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa pagi (24/5).
Problem mengimplementasikan nilai warisan budaya bangsapada kehidupan modern di tengah gencarnya beragam nilai-nilai dari luar. Kenapa sangat penting, karena sebenarnya setelah merdeka masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang bagus, karena adanya tatanan baru maka nilai-nilai budaya bangsa belum terimplementasikan dengan baik,” tutur Nasihin.
Selanjutnya, Nasihin menekankan pentingnya daya saing bangsa untuk membentuk budaya berkemajuan. Ia menyatakan daya saing bangsa dapat dibangun dengan saling membangun rasa percaya dari diri sendiri hingga peran penting pemerintah pusat. “Untuk menumbuhkan daya saing masyarakat perlu saling membangun saling rasa percaya, dimulai kita bekerjasama, pada hakikatnya masyarakat kita sudah punya budaya gotong royong. Selain itu dibutuhkan rasa keterbukaan, kritis, toleran, dan kesetaraan yang nantinya membangun nilai baru sambil memperkuat pemerintahan yang kuat yang terpusat, ini adalah tantangan bagi negara kepulauan seperti Indonesia,” tambahnya.
Nasihin menambahkan melalui acara konvensi ini nilai-nilai warisan budaya bangsa itu dapat dibentuk. Ia juga menyatakan bahwa konvensi ini adalah salah satu langkah besar Muhammadiyah bagi negara Indonesia. “Konvensi ini bagi Muhammadiyah adalah langkah besar dengan visi mewujudkan Indonesia yang berkemajuan, dulu Muhammadiyah telah sukses dengan visi surat Al-Maun dan TBC (red: Takhayul, Bidah, Kurofat),” tutu Nasihin Masa.

Kekuatan Konspirasi, Mainkan Ekonomi Pro Rakyat

Saat ini Indonesia kesenjangan  ekonomi di Indonesia sudah semakin terlihat tajam. Istilah yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin dan termiskinkan masih melekat pada kondisi rakyat Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia bagian Timur (WIT) maupun di wilayah perbatasan Indonesia dengan negara lain. Kelemahan perekonomian rakyat, didukung dengan banyaknya pengelola sumber daya yang dikuasai oleh kekuatan konspirasi. Sehingga kekayaan sumber daya yang dimiliki negara dan seharusnya dimanfaatkan oleh rakyat, terhalang oleh pihak konspirasi yang di belakangnya memiliki kepentingan. Sehingga menjadikan pemerintah diberdayakan oleh pemangku konspirasi kepentingan.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Prof. Musa Asy’arie saat memberikan materi yang berjudul Rekonstruksi Kebijakan Ekonomi Pro Rakyat, dalam acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan, pada Selasa (24/05) di Gedung Pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dalam penyampaiannya, Prof. Musa mengatakan bahwa pihak konspirasi disebut sebagai tukang catut. Tukang catut ini merupakan para pemegang kepentingan yang selalu memainkan kebijakan perekonomian pemerintah.
“Dalam realitasnya, pembangunan ekonomi kita disetiap proses dan tahap kegiatannya selalu ada ekonomi tukang catut. Bisa dikatakan ekonomi tukang catut ini karena dalam peranan perekonomian selalu di kuasai oleh pemangku kepentingan. Sedangkan dalam ekonomi tukang catut ini berlaku dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Kalangan bawah seperti calo yang masih sering berkeliaran di sekeliling masyarakat Indonesia. Sedangkan kalangan atas seperti pihak multinasional korporasi yang perlahan-lahan memainkan peranan penting dalam perekonomian kita,” jelas Prof. Musa
Prof. Musa menambahkan bahwa tukang catut tersebut membangun jaringan konspirasi di semua lini, pemodalan, perizinan, penetapan lokasi, dan manajemen perusahaan. Kondisi ini yang menyebabkan banyak munculnya korupsi. “Ekonomi pro rakyat mewajibkan pengguna produk dalam negeri dan bimbingan teknik peningkatan kualitas. Namun masalahnya produk dalam negeri tidak berkualitas. Sehingga perlindungan ekonomi rakyat melalui intervensi perluasan pemasaran untuk ekonomi rakyat,” tandasnya.
Jika melihat kasus di Indonesia, Prof. Musa mencontohkan kasus Freeport. “Saya menduga Freeport ada kejahatan konspirasi. Faktanya, rakyat tidak berani mengusik Freeport. Hanya pihak kepentingan yang bisa mengusik Freeport. Di lain sisi, kasus Freeport tidak berdaya pro rakyat,” paparnya.
Agar perekonomian Indonesia tidak diberdaya oleh konspirasi kepentingan, Prof. Musa mengharapkan bahwa konspirasi harus dilawan agar negeri-negeri tidak tergadaikan. “Kalau ingin membangun pro rakyat, maka pemerintah harus melawan konspirasi,”harapnya.
            Sementara itu, Prof. Bambang Setiaji selaku salah satu pembicara dalam konvensi tersebut mengatakan bahwa pemerintah Indonesia telah memberikan fasilitas pro rakyat, namun pemerintah dalam menerapkannya belum secara maksimal, dan masih belum tepat sasaran.
Menurut pandangan Prof. Setiaji dalam mengentaskan perekonomian kemiskinan dan pengangguran, Prof. Setiaji mengatakan bahwa kebijakan konvensional yang bisa mengentaskan perekonomian yaitu ekonomi kapitalis dikatakan pro rakyat jika dilihat dari terbukanya lapangan pekerjaan. Hal ini karena dalam perekonomian kapitalis, banyaknya muncul korporasi multinasional yang memberikan peluang pekerjaan bagi rakyat Indonesia.
“Orang asing memberi teknologi dengan memberi pekerjaan kepada rakyat. Ini kaitannya dengan memperbanyak regulasi yang pro rakyat. Ini karena pengangguran lebih berbahaya daripada perbudakan. Banyaknya perusahaan asing inilah yang meberikan peluang kepada rakyat yang menganggur. Sama halnya dengan ketimpangan sosial, ini juga memberikan peluang orang kaya memberikan pekerjaan kepada warga kalangan bawah,” jelasnya.
Selain itu, Prof. Setiaji juga menyebutkan bahwa perekonomian pro rakyat seperti mega proyek infrastruktur, pensiun untuk semua rakyat, kredit usaha rakyat (KUR), subsidi pangan, serta alokasi dana. “Megaproyek infrastruktur itu dapat dikatakan pro rakyat, namun pada titik tertentu infrastruktur anggaran habis untuk merawat, terlebih kalau ada yang korupsi. Selain itu, pensiun untuk semua rakyat jangan sampai dilakukan agar tidak seperti Yunani yang terpuruk dalam perekonomian. Oleh karena itu, pemerintah harus hati-hati kalau menerapkan pensiun untuk semua rakyat. Karena akan devisit anggaran pemerintah,” jelasnya.
Untuk mengentaskan pengangguran, Prof. Setiaji menekankan kepada pemerintah bahwa yang harus ditolong dalam peningkatan perekonomian rakyatnya harus dari kalangan yang kreatif. “Pemerintah harus menolong rakyat yang 20 persen ke atas dari 40 persen rakyat  kalangan bawah. Ini karena yang berhak ditolong rakyat pada 20 persen ke atas inilah yang memiliki kereatifitas, seperti para sarjana,” tutup Prof. Setiaji.

Tidak masalah Indonesia pakai Sistem Ekonomi Islam

Penciptaan lembaga-lembaga yang menegakkan peraturan undang-undang perlu hadir dan diberdayakan. Lembaga-lembaga tersebut perlu disemarakkan dan diperbanyak. Demikian pernyataan Prof Collincon dalam acara Panel Ekonomi Kebudayaan dalam rangkaian acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan di Gedung Pasca Sarjana Kasman Singodimejo UMY, Selasa (24/5).
Menurutnya Institusi Ekonomi di Indonesia jangan jadi institusi liberal.Aturan yang baik harus didasari norma yang baik pula. Indonesia sudah kaya akan nilai-nilai dan norma, dan sebaiknya nilai-nilai baik itu diterapkan dalam pembentukan isntitusi ekonomi. Begitu pula dengan aturan-aturan yang ada di Indonesia.

Sementara itu menurutnya, Sistem Ekonomi Islam sangat bisa dikembangkan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan sistem perekonomian di Indonesia sudah bukan embrio lagi dan bisa diperbaiki. Di samping itu, sistem ekonomi Islam juga sudah sangat sering didengunkan di Indonesia. “Tidak masalah Indonesia memakai Ekonomi Islam, namun tidak perlu menggantinya, melainkan dengan cara memasukkan nilai-nilai Islam dalam peraturan yang dibuat," ujarnya.
Sementara itu, M Amin Abdullah yang mengisi tema kebudayaan berkemajuan membahas tentang pemikiran islam. Menurutnya Salah satu ciri pokok pemikiran Islam Indonesia yang hendak dikembangkan di perguruan tinggi Islam adalah adanya sense, dan keharusan melibatkan analisis ilmu-ilmu sosial dalam memahami realitas dan dinamika pemikiran Islam.
Amin Abdullah menambahkan bahwa sekolah dan perguruan tinggi Islam memiliki pengaruh dalam kemajuan bangsa. “Tanpa mengecilkan peran perguruan tinggi yang lain, patut dicatat bahwa jika tanpa adanya jaringan Perguruan Tinggi Agama Islam di tanah air, yang sekarang jumlahnya 55 PTA, yang terdiri dari 11 Universitas Islam Negeri (UIN), 26 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan 18 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) [PTKIN],  belum lagi 569  perguruan tinggi swasta Islam (PTKIS) – baik yang ada di bawah persyarikatan Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama maupun lainnya -  yang terdiri dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), Institut Agama Islam (IAI), dan Fakultas Agama Islam (FAI) pada Perguruan Tinggi Umum, bangsa ini tidak akan sampai pada masa-masanya saat ini. Karena keberadaan perguruan-perguruan tinggi Islam ini juga memiliki pengaruh dan peran dalam memajukan kehidupan bangsa," ujarnya. (Bagas)

Partisipasi Masyarakat Jadi Cara Untuk Tingkatkan Kepercayaan terhadap Pemerintah

Dalam membangun sebuah pemerintahan yang bersinergi dan maju, dibutuhkan beberapa hal yang harus saling mendukung. Mulai dari elit politik hingga masyarakatnya harus bersatu guna mewujudkannya. “Kita harus mencoba berubah dan bangun dari semua ini. Kita harus transparan kepada masyarakat, merespon segala keluhan masyarakat, berani bertanggung jawab, dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan begitu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan meningkat,” kata Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo dalam sesi pararel “Politik Berkemajuan : Pemerintah Daerah dan Pembangunan Nasional : Perspektif Good Governance” yang termasuk sebagai salah satu agenda Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Selasa, (24/5).
Sumber daya yang harus dipenuhi dalam meningkatkan kepercayaan kepada pemerintah adalah manusia, peraturan, dan sistem demokrasi yang baik. Saat ini, menurut Yoyok, sebuah kemajuan bukan hanya bergantung kepada rakyat, tapi juga elitnya. “Minggu depan sebanyak 48 kepala desa harus siap mempresentasikan pertanggungjawabannya terhadap dana desa yang sudah diberikan beberapa waktu lalu,” lanjut Yoyok. Yoyok mengakui, ia bukanlah orang yang berlatar belakang politik dan tidak pernah belajar ilmu pemerintahan, tapi ia tetap berusaha untuk menegakkan demokrasi yang tegak lurus. “Hasilnya, kemarin saya berhasil mengadakan Festival Anggaran yang berisi laporan pertanggungjawaban anggaran saya kepada masyarakat Batang,” terang Yoyok.
Senada dengan Yoyok, Walikota Bandung Ridwan Kamil juga mengutamakan partisipasi masyarakat dalam membangun Kota Bandung. Ridwan Kamil menyebutkan bahwa dengan latar belakangnya yang berasal dari dunia profesional, ia mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya. “Saya perbaiki berbagai infrastruktur di Bandung, membangun berbagai ruang publik, dan mentransparansikan segala kebijakan yang saya ambil kepada masyarakat,” kata lelaki yang akrab disapa Kang Emil ini dalam kesempatan yang sama.
Terobosan Ridwan Kamil dalam pemerintahannya salah satunya adalah memanfaatkan media sosial dalam menjalin komunikasi dengan masyarakat Bandung. Ridwan mengubah semua administrasi manual menjadi online, termasuk mengurus ijin usaha mikro yang bernilai di bawah 50 juta Rupiah. Selain itu, ia juga memanfaatkan latar belakangnya sebagai arsitek untuk membangun jaringan dan relasi yang tujuannya untuk mewujudkan Bandung Juara. “Salah satu hasilnya adalah Malaysia berkomitmen mengeluarkan 70 miliar rupiah untuk membeli produk-produk usaha kecil dan menengah yang berasal dari Kota Bandung,” tutur Ridwan.
Pararel sesi ini juga dihadiri oleh Gubernur NTB Zainul Majdi, Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Sorong Stefanus Malak, Mantan Walikota Yogyakarta Herry Zuhdianto, dan dimoderatori oleh Dr. Achmad Nurmandi. Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan ini akan ditutup oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pada Selasa sore di Sportorium UMY.

Pengasuh Anak Yatim Piatu Perlu Perhatikan Kondisi Psikis Anak

Para pengasuh Panti Asuhan Mustika Tama saat sedang mengikuti pelatihan pengasuh panti yang diadakan oleh tim PKM-M UMY
Anak-anak terutama balita (bawah lima tahun), membutuhkan kebutuhan nutrisi yang tercukupi untuk perkembangannya. Tidak hanya itu, anak-anak pada usia tersebut juga perlu diperhatikan kondisi psikologisnya. Terutama pada anak-anak yatim piatu. Sehingga pengasuh anak di panti asuhan, harus mengerti tentang beberapa kondisi psikologis anak dan cara penanganannya.

Anak-anak kecil yang sudah memiliki latar belakang berbeda dengan anak-anak pada umumnya, seperti anak yatim atau piatu, anak diluar nikah, tentu sudah memiliki beban psikis sejak kecil. Salah satu psikolog dari komunitas Morfosa, Pihasni Wati, M.A., mengungkapkan bahwa sejak dalam kandungan, bayi pada usia 20 minggu sudah memiliki emosi. "Tiap perasaan-perasaan yang dirasakan si ibu juga akan berpengaruh ke sang bayi. Makanya kalau si ibu hamil stress dan depresi, anak juga anak terpengaruh. Seperti contohnya dengan menendang-nendang. Ibu hamil yang stress, juga cenderung melahirkan anak-anak yang depresi," jelas Hasni dalam pelatihan pengasuh panti yang diadakan oleh Tim PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) UMY di Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhu'afa Mustika Tama, Cemplung, Padokan Kidul, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta pada Selasa (7/06).

Dalam menangani masalah tersebut, sang anak harus mendapatkan kasih sayang yang cukup. Sehingga pengasuh anak, terutama anak-anak di panti asuhan, harus memperhatikan beberapa aspek. Pertama seorang pengasuh harus memastikan dirinya memiliki stock kasih sayang yang cukup, sebelum memberikan kasih sayang ke anak-anak. "Kita juga harus sadar stock kasih sayang yang kita miliki. Kalau kita sedang memiliki perasaan sedih, kecewa atau marah, kita harus sadar akan kondisi kita tersebut. Kita harus mengembalikan lagi ke Allah SWT, dan meminta supaya stock kasih sayang kita kembali diisi," jelas Hasni.

Faktor selanjutnya menurut Hasni adalah pengasuh anak harus memahami kebutuhan dasar anak usia awal. Yang anak-anak butuhkan pada usia tersebut adalah rasa aman dan percaya. Pengasuh dapat menumbuhkan rasa percaya dan aman pada anak dengan cara positif wajah dan positif kata-kata. "Dengan positif wajah, kita harus selalu tersenyum pada anak. Jangan menunjukkan ekspresi wajah yang tidak disukai anak, karena musibah juga bisa berawal dari wajah. Kalau kita sudah menunjukkan ekspresi marah, psikis anak juga akan terpengaruhi. Sedangkan dengan positif kata-kata, kita harus dapat mengurangi memarahi dan memaki anak, bahkan memukul mereka. Yang harus kita berikan adalah kata-kata positif untuk dapat mendorong mereka," tegas Hasni lagi.

PKM yang dilakukan oleh lima mahasiswa UMY tersebut merupakan PKM bertema Pengabdian pada masyarakat (PKM-M). Lima mahasiswa tersebut terdiri atas empat mahasiswa PSIK dan satu mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam yang antara lain Novelinda Permata Sari, rahmat Arifin, Dzikri Abdillah, Astri Sulistiyaningrum dan Pujie Sukmi. Kegiatan PKM Pengabdian mereka berjudul Pelopor Rumah Pintar (Perumpi) Peduli Anak Goes to Panti dalam Membentuk Pengasuh Anak Bangsa Berkarakter. (Deansa)

Mahasiswa UMY Ciptakan Inkubator Alam Untuk Daerah 3T

Alat Inkubator Alam buatan Mahasiswa UMY
Tersedianya inkubator sangat diperlukan, terutama untuk membantu perawatan pada bayi prematur. Namun, pada daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan), ketersediaan inkubator elektrik canggih menjadi kendala tersendiri. Oleh karena itulah, lima mahasiswa UMY menciptakan inovasi Inkubator Alam untuk menangani kendala tersebut.

Kelima mahasiswa yang membuat inovasi Inkubator Alam tersebut yakni Ferdy Winanta Eka Saputra (Teknik Mesin angkatan 2013), Yusuf Susanto (Pendidikan Dokter 2013), Angga Ardinista (Teknik Mesin 2013), Dwi Verdi Firmansyah (Teknik Elektro 2013), dan Henri Yunanto Dwi Chahyo (Teknik Mesin 2013). Kelima mahasiswa UMY tersebut membuat inovasi inkubator dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2016 bidang Karsa Cipta, dengan judul program "INKUBATOR ALAM Sebagai Solusi Penyediaan Inkubator pada Daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan).

Menurut Angga Ardinista, salah seorang anggota tim PKM-KC INKUBATOR Alam, saat ditemui di Biro Humas UMY pada Selasa (7/6) menjelaskan alasan mereka membuat inovasi inkubator untuk bayi prematur tersebut dikarenakan kelahiran bayi prematur masih menjadi penyebab utama meninggalnya bayi yang baru lahir di bawah usia 4 minggu. Selain itu, kelahiran bayi prematur juga menjadi penyebab kedua setelah pneumonia (radang paru-paru) anak di bawah 5 tahun. "Selain itu, berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, Angka Kelahiran Bayi (AKB) di Indonesia adalah 34/1000 Kelahiran Hidup. Dalam hal ini persoalan fasilitas yang mendukung untuk pemenuhan kebutuhan bayi prematur menjadi hal yang sangat penting, seperti kebutuhan akan peralatan inkubator," jelasnya.

Namun, lanjut Angga lagi, berdasarkan data dari Kemeterian ESDM RI, masih ada beberapa daerah di Indonesia yang hingga saat ini  belum terjangkau pasokan listriknya dengan baik sebagai sumber energi utama peralatan medis. Beberapa daerah tersebut seperti di kawasan Sumatera-Aceh, Sumatera Barat-Riau, Bangka, Sumarera bagian selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, serta Maluku. "Dan daeran-daerah yang berada di kawasan-kawasan itu, yang terkena krisis listrik rata-rata termasuk daerah 3 T. Sehingga hal tersebut tentunya menjadi kesulitan tersendiri bagi rumah sakit jika ingin menyediakan inkubator untuk bayi prematur yang menggunakan tenaga listrik sebagai energi utamanya. Tak hanya itu, harga dari sebuah inkubator yang dijual di pasaran juga relatif mahal, sehingga dapat menambah beban pengeluaran rumah sakit di daerah terpencil," papar Angga lagi.

Karena itulah, dirinya bersama keempat temannya memutuskan untuk membuat inovasi inkubator, berupa Inkubator Alam. Secara fisik, Inkubator Alam yang diciptakan oleh Angga beserta keempat temannya juga tidak ada bedanya dengan inkubator bayi prematur yang biasa ada di rumah sakit - rumah sakit. Hal yang membedakan antara Inkubator Alam dengan inkubator pada umumnya, menurut Angga adalah terletak pada sumber energi yang dimiliki oleh keduanya. "Inkubator Alam sendiri merupakan alat yang memanfaatkan energi matahari sebagai bahan bakarnya. Dalam pembuatan inkubator alam ini kami menggunakan solar water heater sebagai kolektor panasnya. Solar water heater tersebut kami peroleh dengan mengumpulkan energi panas matahari, yang kemudian digunakan untuk menaikkan temperatur ruangan Inkubator Alam yang disesuaikan dengan temperatur bayi," ujar Angga.

Angga juga mengatakan bahwa berdasarkan survei yang mereka lakukan di beberapa Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, inkubator yang ada saat ini, biasanya sudah diatur pada temperatur tertentu dan tidak dapat diubah. Sehingga ketika pengguna membutuhkan ruangan atau box dengan temperatur lain, maka pengguna harus mengganti lampu atau elemen pemanas yang digunakan sebelumnya dengan elemen pemanas lainnya.

"Untuk itulah, kami menawarkan untuk membuat Inkubator Alam ini sebagai solusi dan membantu permasalahan yang dihadapi di daerah-daerah 3 T. Inkubator Alam ini dapat membantu pemenuhan kebutuhan bayi prematur di daerah terpencil yang kesulitan pasokan sumber listrik. Selain itu, Inkubator Alam yang kami buat ini juga memiliki beberapa keunggulan, selain energi yang digunakan adalah Energi Terbarukan yakni energi matahari tanpa menggunakan listrik PLN, keunggulan lainnya dari Inkubator Alam ini yakni mudah untuk dibuat, dilengkapi dengan Air Flow Humidity, Controll Temperatur menggunakan Microcontroller, bisa menampilkan suhu di dalam inkubator menggunakan LED, dilengkapi dengan Alarm Indikator Error dan mode kontrol udara. Selain itu, harga pembuatan Inkubator Alam ini juga relatif terjangkau masyarakat dan ramah lingkungan karena menggunakan energi terbarukan. Dan jika diproduksi massal harganya tentu akan lebih murah," ungkap Agga lagi.
Lima mahasiswa UMY Ferdy Winanta Eka Saputra (Teknik Mesin angkatan 2013), Dwi Verdi Firmansyah (Teknik Elektro 2013), Yusuf Susanto (Pendidikan Dokter 2013), Henri Yunanto Dwi Chahyo (Teknik Mesin 2013) dan Angga Ardinista (Teknik Mesin 2013)

Adapun prinsip kerja dari alat Inkubator Alam ini yakni memanfaatkan solar water heater yang telah dimodifikasi sebagai kolektor energi panas. Energi panas yang telah terakumulasi kemudian dialirkan melalui pipa-pipa tembaga yang terhubung dengan inkubator alam. "Panas dari kolektor kemudian berpindah melalui pipa tembaga yang dialiri air ke inkubator, panas inilah yang kemudian akan menghangatkan ruang inkubator. Inkubator alam ini juga dilengkapi dengan sensor temperatur dan sensor kelembaban yang berguna untuk mengetahui temperatur dan kelembaban di dalam inkubator, jika temperatur naik beberapa derajat di atas temperatur bayi, maka otomatis katup pada pipa akan menutup, serta temperatur dalam inkubator akan stabil," jelas Angga lagi.

Angga juga menambahkan bahwa sekalipun saat ini ia bersama timnya baru membuat prototype dari Inkubator Alam tersebut, namun prototype tersebut sudah menggunakan bahan utama dari stainless steel dan fiber. Selain itu, inkubator alam ini juga menggunakan komponen peralatan pendukung lainnya seperti solar collector, sensor suhu tipe LM35DZ yang berfungsi untuk mendeteksi suhu yang naik di dalam ruangan inkubator bayi, Sensor DT sense humidity tipe HH10D berfungsi sebagai pengukur kelembaban di dalam ruangan inkubator bayi, dan microcontroller arduino nano. "Solar controller tersebut berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan energi panas matahari yang kemudian digunakan untuk memanaskan ruang inkubator. Sementara microcontroller-nya berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk mengatur suhu dan kelembaban di dalam inkubator, selain itu juga untuk mengatur flow rate dari air panas yang dialirkan melalui pipa-pipa heat exchanger, sehingga temperatur dan kelembaban ruang inkubator dapat terjaga sesuai dengan suhu tubuh bayi," imbuhnya.

Dengan rancangan pembuatan Inkubator Alam ini, Angga berharap dapat membantu rumah sakit-rumah sakit khususnya yang berada di daerah 3T. Apalagi Indonesia merupakan negara tropis, yang pasokan sinar mataharinya baik untuk penggunaan alat yang berbasis pada tenaga surya. 

Musik Bambu asal Sangihe Turut Hibur Presiden RI dan peserta KNIB


Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) 2016 yang dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo, pada Senin (23/5) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), disambut oleh iringan musik dari grup musik Musik Bambu Sang Surya. Grup musik Bambu asal daerah terluar Indonesia ini berasal dari Sangihe, Sulawesi Utara, tepatnya di daerah perbatasan Indonesia dengan Filipina. Grup musik Bambu Sang Surya yang juga baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Yogyakarta ini bertindak sebagai musik pengiring mars Muhammadiyah 'Sang Surya', yang dibawakan oleh Paduan Suara Sunshine Voice UMY.

Grup musik Bambu Sang Surya yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Yogyakarta ini bertindak sebagai musik pengiring mars Muhammadiyah "Sang Surya" yang dibawakan oleh Paduan Suara Sunshine Voice UMY. Grup musik yang beranggotakan 38 orang ini didatangkan langsung dari daerah Sangihe.

Sutarji Adipati, S.Pd.I, selaku Koordinator Musik bambu Sang Surya dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sulawesi Utara mengungkapkan bahwa ia dan timnya merasa sangat tersanjung, karena telah diundang dalam acara KNIB tersebut. Terlebih lagi acara KNIB tersebut dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo. "Kami merasa sangat tersanjung karena telah diizinkan untuk ikut tampil dalam acara KNIB ini. Hal ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi kami, karena kami berasal dari salah satu daerah perbatasan Indonesia. Tapi kami memiliki satu keunggulan yang bisa ditawarkan kepada masyarakat Indonesia, yakni melalui keahlian musik bambu yang kami bawakan ini," ujarnya saat ditemui pada Senin (23/5) di Sportorium UMY.

Sutarji pun berharap agar keunggulan masyarakat Sangihe yang membawakan musik bambu dari daerah asalnya tersebut dapat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bahkan juga dapat menjadi daya tarik wisata. "Kami juga tidak menyangka bahwa grup musik dari daerah terpencil seperti kami ini bisa diundang ke acara KNIB yang disaksikan langsung oleh Presiden RI. Tapi kami berharap dengan penampilan kami ini, pemerintah pusat bisa melirik musik bambu dari daerah kami. Sehingga jika sewaktu-waktu ada acara di Istana Negara, kami bersedia diundang membawakan lagu-lagu nasional atau daerah," ungkapnya.

Selain itu, perjalanan grup musik bambu Sang Surya yang beranggotakan 38 orang dan didatangkan langsung dari Sangihe ini juga penuh dengan perjuangan. Sebagaimana diceritakan pula oleh Sutarji, bahwa jarak yang mereka tempuh dari daerah asalnya hingga tiba di Yogyakarta kurang lebih memakan waktu selama satu hari satu malam. "Perjalanan kami dari pulau Sangihe hingga tiba di Yogyakarta ini sekitar 23 jam. Dari Kabupaten Sangihe ke Manado, jarak yang harus kami tempuh adalah 9 jam. Setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan udara dari Manado ke Surabaya sekitar 3 jam. Dan perjalanan terakhir menggunakan bis dari Surabaya ke Yogyakarta kurang lebih 9 jam," terang Sutarji. Namun perjalanan yang penuh dengan perjuangan tersebut akhirnya bisa terbayar dengan penampilan mereka yang bisa disaksikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo.

Sutarji juga menambahkan bahwa grup musik bambu Sang Surya tersebut baru satu tahun keberadaannya. Meski demikian, grup musik bambu ini sudah sering melakukan pertunjukan dalam acara Musyawarah Wilayah Muhammadiyah di Provinsi Sulawesi Utara dan Musyawarah Daerah yang dipimpin oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di samping itu, keberadaan musik bambu Sang Surya ini juga menjadi ikon kerukunan masyarakat wilayah Kepulauan Sangihe. Sutarji mengungkapkan bahwa musik bambu yang berasal dari China ini awalnya dibawakan oleh masyarakat Sangihe yang beragama Nasrani saja. "Namun dengan dukungan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan inisiatif dari teman-teman, musik bambu Sang Surya ini pun tercipta. Sekalipun memang ada beberapa anggota di grup musik bambu kami yang beragama Nasrani, tapi kami tidak memiliki masalah dan kerukunan antar kami tetap terjalin dengan baik," imbuh Sutarji lagi. Ia pun mengakhiri dengan mengungkapkan bahwa grup musik bambu Sang Surya sudah berlatih selama satu bulan untuk mempersiapkan penampilannya di Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di UMY.

Jokowi Tandatangani 5 Prasasti Amal Usaha Muhammadiyah

Presiden Republik Indonesia,  Ir. Joko Widodo menandatangani lima prasasti amal usaha yang dimiliki oleh persyarikatan Muhammadiyah. Penandatanganan kelima prasasti tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dilaksanakan pada Senin hingga Selasa (23-24/5) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam konvensi tersebut turut mengundang Presiden, Ir. Joko Widodo untuk membuka konvensi Indonesia Berkemajuan sekaligus menandatangani lima prasasti Amal Usaha Muhammadiyah pada Senin, (23/5) di Sportorium UMY.

Kelima prasasti tersebut yaitu peresmian Universitas Aisyiah Yogyakarta, peresmian gedung Induk Siti Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta, peresmian pembangkit listrik tenaga mikro hidro 2, peresmian observatorium ilmu falak Universitas Sumatera Utara, serta peresmian gedung klinik utama surya medika PKU Muhammadiyah Sumbawa.
Dalam penandatanganan kelima prasasti tersebut, Ir. Joko Widodo turut disaksikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nasir, M.Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Dra. Hj. Siti Noorjannah Djohantini, M.M., M.Si, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua MPR DR. (HC) Zulkifili Hasan,  Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, Menteri Agama RI Drs. H. Lukman Hakim, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Sekretaris Kabinet Indonesia Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M, serta Rektor UMY Prof. Bambang Cipto, MA.
Selain itu dalam rangkaian konvensi tersebut, PP Muhammadiyah memberikan penghargaan kepada dosen berprestasi pemegang hak paten, hak cipta, serta desain industry. Kategori pemegang hak paten diberikan kepada 10 dosen dari 5 Universitas Muhammadiyah.
Kesepuluh dosen dari lima Universitas Muhammadiyah tersebut diantaranya yaitu 6 dosen dari Universitas Muhammadiyah Malang, Mohammad Chasrun Hasani dengan judul paten Aparatus Penghitung Detak Jantung Manusia, Achmad Fauzan Hery dengan judul Mesin Penurun Kadar Air Madu dengan Pengkabut, Aris Winaya Formula Suplemen Pakan Asal Mikro Alga Anabaena Azzolae sebagai Sumber Vitamin Antioksidan,  Aris Winaya dengan judul komposisi dan produk pakan tambahan berbahan dasar tanaman Azolla sp, Latipun dengan judul Intervensi pencegahan perilaku antisosial, serta Elfi Anis Saati dengan judul produk pewarna alami makanan dari bunga mawar merah dan proses pembuatannya. Sedangkan dalam proses hak paten, UM Malang saat ini memiliki 82 paten dan 2 desain produk industri. Selain itu, UM Malang memiliki dosen pemegang hak cipta dengan jumlah 25 orang.
Sedangkan penerima penghargaan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yaitu haryadi dengan judul paten metode dan  aparatus (alat) untuk mengukur sifat listrik  dari struktur transistor efek medan yang terkena cahaya, dan juga penelitian metode dan alat untuk pengukuran sifat listrik struktur transitor efek  medan gerbang arus balik (back-gate). Dalam proses hak paten, UAD memiliki 20 paten, 48 hak cipta, serta 3 desain industri. Adapun penerima penghargaan Universitas Muhammadiyah Sukabumi, diraih oleh Salih Muharam dengan judul paten peralatan pengolahan limbah cair portabel metoda elektrokoagulasi.
Penerima penghargaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) diraih oleh Kun Harismah dengan judul proses pembuatan nata dengan penambahan gula merah. Saat ini UMS telah memiliki dosen pemegang hak cipta sebanyak 7 desain industri, serta memiliki proses hak cipta sebanyak 18 paten.
            Selain penyerahan penghargaan kepada dosen penerima hak paten untuk lima universitas Muhammadiyah tersebut, PP Muhammadiyah juga memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi 2015/2016 di tingkat Internasional dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY sebanyak 70 siswa.
           70 Siswa penerima penghargaan tersebut masing-masing sekolah terbagi kedalam dua wilayah, diantaranya yaitu PWM Jatim yang meliputi SMA Muhammadiyah 1 Gresik, SD Muhammadiyah 4 Pucung, serta SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Sedangkan dari wilayah DIY yaitu SD Muhammadiyah Sapen, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, serta SD Mujahidin Gunung Kidul.